Bagaimana location intelligence membantu organisasi memahami perubahan lingkungan, memperkuat resilience, dan mengubah target sustainability menjadi langkah nyata? Esri User Conference (UC) 2026 memberikan sejumlah insight penting.
Bagi banyak organisasi, tantangan sustainability bukan karena kekurangan data. Justru sebaliknya, data yang dibutuhkan sering kali tersebar di berbagai tim, sistem, dan lokasi.
Tim lingkungan memantau ekosistem dan emisi. Tim pengelola aset mengawasi infrastruktur dan pemeliharaan. Tim penanggulangan bencana memantau berbagai risiko. Para perencana memproyeksikan kebutuhan di masa depan. Sementara itu, pimpinan organisasi perlu mempertimbangkan investasi, risiko, dan dampaknya terhadap masyarakat.
Masing-masing tim memiliki bagian dari informasi yang dibutuhkan. Namun, tanpa konteks yang menghubungkan semuanya, akan sulit mendapatkan gambaran utuh: apa yang sedang berubah, siapa atau apa yang terdampak, dan di mana tindakan akan memberikan dampak terbesar.
Inilah salah satu pesan utama dari UC 2026: untuk menghadapi tantangan sustainability yang kompleks, organisasi membutuhkan pemahaman yang sama tentang apa yang terjadi, di mana terjadinya, dan bagaimana berbagai faktor saling berkaitan.
Dalam berbagai sesi plenary, customer stories, dan demo teknologi, sustainability tidak dibahas sebagai sekadar urusan pelaporan. Sebaliknya, sustainability semakin terhubung dengan keputusan sehari-hari terkait lahan, air, infrastruktur, sumber daya, masyarakat, dan risiko.
Bagi organisasi di Indonesia yang menghadapi perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, infrastruktur yang semakin tua, dan kebutuhan layanan yang terus meningkat, ada lima insight yang patut diperhatikan.
Sustainability menjadi lebih mudah diwujudkan ketika kita memahami konteks lokasinya.
Target sustainability biasanya ditetapkan dalam bentuk yang cukup umum: mengurangi emisi, melindungi keanekaragaman hayati, menggunakan sumber daya secara lebih efisien, atau meningkatkan resilience terhadap perubahan iklim.
Namun, pelaksanaannya selalu terjadi di tempat tertentu.
Target akan menjadi lebih konkret ketika organisasi dapat melihat fasilitas mana yang menggunakan energi paling banyak, di mana tutupan vegetasi mulai berkurang, wilayah mana yang paling terpapar panas, di mana kebutuhan air meningkat, atau aset mana yang paling rentan terhadap banjir, kebakaran, maupun perubahan garis pantai.
Di sinilah GIS berperan.
GIS membantu menghubungkan informasi lingkungan, operasional, sosial, dan ekonomi berdasarkan lokasi. Dengan begitu, organisasi dapat bergerak dari pertanyaan yang bersifat umum ke pertanyaan yang lebih spesifik:
- Apa yang sedang terjadi?
- Di mana terjadinya?
- Apa yang menyebabkan perubahan tersebut?
- Siapa atau apa yang terdampak?
- Dan di mana kita perlu bertindak terlebih dahulu?
Manfaatnya bukan hanya membuat data terlihat lebih jelas di peta. Ketika informasi sustainability terhubung dengan aset, proyek, layanan, dan masyarakat, insight tersebut dapat ikut dipertimbangkan dalam keputusan investasi, desain, pemeliharaan, dan operasional.
Dengan kata lain, sustainability tidak lagi berhenti sebagai laporan. Insight-nya dapat digunakan untuk menentukan tindakan.
Jangan hanya melihat kondisi saat ini. Pantau bagaimana kondisinya berubah
Selama ini, keputusan terkait sustainability sering mengandalkan survei berkala, inventarisasi, dan laporan historis. Semua itu tetap penting. Namun, ketika kondisi lingkungan berubah semakin cepat, organisasi juga membutuhkan cara untuk melihat perubahan tersebut secara lebih berkelanjutan.
Perkembangan satellite imagery, aerial imagery, drone, sensor, dan aplikasi lapangan membuat pemantauan lahan, air, vegetasi, infrastruktur, dan berbagai risiko dalam area yang luas menjadi semakin mudah.
Dengan imagery dan GeoAI, tim dapat mengidentifikasi objek, mengklasifikasikan tutupan lahan, dan mendeteksi perubahan dalam skala yang sulit dilakukan secara manual.
Di UC 2026, perkembangan geospatial foundation models juga menunjukkan potensi besar di area ini. Model yang dilatih menggunakan data Earth observation dan location data dalam jumlah besar dapat membantu menemukan lokasi dengan karakteristik serupa, mengenali pola, dan mendukung berbagai kebutuhan monitoring.
Namun, teknologi bukan satu-satunya faktor. Manfaatnya tetap bergantung pada cakupan data, kualitas dan akurasi informasi, serta kesesuaiannya dengan keputusan yang ingin dibuat.
Yang paling penting adalah memperpendek jarak antara perubahan yang terjadi dan tindakan yang diambil organisasi.
Ketika sebuah perubahan terdeteksi, informasi tersebut seharusnya tidak berhenti sebagai notifikasi. Informasi tersebut perlu terhubung dengan lokasi, aset, kebijakan, workflow, dan orang yang dapat menilai situasinya serta menentukan langkah berikutnya.
Sustainability dan resilience perlu dilihat sebagai satu kesatuan
Pembahasan sustainability sering kali memisahkan dua hal: bagaimana organisasi mengurangi dampaknya terhadap lingkungan dan bagaimana organisasi beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.
Padahal, keduanya saling berkaitan.
Upaya mengurangi dampak lingkungan dapat dimulai dengan memahami di mana sumber daya paling banyak digunakan, di mana emisi dihasilkan, ekosistem mana yang berada di bawah tekanan, dan di mana sebuah intervensi dapat memberikan manfaat terbesar.
Sementara itu, resilience membantu organisasi memahami di mana risiko dapat berdampak pada aset, layanan, supply chain, dan masyarakat yang rentan, serta bagaimana risiko tersebut dapat berubah dari waktu ke waktu.
Ketika kedua perspektif ini dilihat bersama, organisasi dapat menemukan trade-off yang mungkin tidak terlihat ketika setiap dataset dianalisis secara terpisah.
Misalnya, sebuah proyek peningkatan aset mungkin dapat mengurangi emisi operasional, tetapi sekaligus meningkatkan risiko terhadap banjir.
Program penghijauan dapat memberikan manfaat bagi keanekaragaman hayati, mengurangi panas di kawasan perkotaan, sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Pembangunan koridor transportasi atau energi baru dapat meningkatkan kapasitas jaringan, tetapi juga menimbulkan dampak terhadap lingkungan yang perlu dikelola.
Tujuannya bukan menyederhanakan semua keputusan tersebut menjadi satu angka sustainability.
Yang dibutuhkan adalah gambaran yang lebih lengkap tentang dampak dari setiap pilihan, baik dari sisi lokasi maupun waktu. Dengan begitu, faktor lingkungan, operasional, finansial, dan sosial dapat dipertimbangkan secara bersamaan.
Gunakan living digital twins untuk melihat berbagai kemungkinan sebelum mengambil keputusan
Digital twins menjadi salah satu topik penting dalam pembahasan sustainability di UC 2026.
Namun, nilai sebuah digital twin bukan terletak pada seberapa detail atau menarik model 3D yang dibuat. Nilainya muncul ketika model tersebut dapat menghubungkan kondisi dunia nyata dengan data historis dan berbagai kemungkinan di masa depan.
Untuk kebutuhan sustainability dan resilience, organisasi dapat menggabungkan data topografi, penggunaan lahan, hidrologi, cuaca, infrastruktur, ekosistem, dan masyarakat untuk memahami bagaimana sebuah wilayah atau sistem bekerja.
Dari sana, berbagai skenario dapat diuji:
- Di mana banjir dapat mengganggu layanan penting?
- Bagaimana pembangunan baru dapat memengaruhi panas, habitat, atau kebutuhan air?
- Pilihan adaptasi mana yang paling efektif untuk melindungi aset dan masyarakat yang paling penting?
- Apa yang akan terjadi jika kondisi menjadi lebih ekstrem?
Living digital twin memberikan ruang bersama bagi perencana, engineer, spesialis lingkungan, tim operasional, dan pimpinan untuk melihat informasi yang sama dan mengeksplorasi berbagai kemungkinan.
Yang menarik, digital twin tidak harus berhenti ketika satu keputusan telah dibuat. Seiring proyek bergerak dari tahap perencanaan ke desain, implementasi, dan operasional, model dapat terus diperbarui agar tetap relevan.
Hal ini penting karena sustainability bukan pekerjaan satu kali.
Organisasi perlu terus mengamati perubahan, menguji pilihan, mengambil tindakan, dan melihat apakah tindakan tersebut benar-benar memberikan hasil.
Gunakan AI untuk bekerja lebih cepat, tetapi tetap libatkan manusia dalam pengambilan keputusan
AI menjadi salah satu sorotan utama Esri UC 2026, termasuk dalam pembahasan mengenai sustainability.
Namun, peran AI bukan untuk menggantikan keahlian manusia. Justru, AI dapat membantu organisasi mengolah lebih banyak informasi dan mengarahkan perhatian manusia pada hal-hal yang membutuhkan pengalaman dan judgement.
GeoAI dapat membantu melakukan monitoring berulang menggunakan imagery. AI assistants dapat menyederhanakan pekerjaan seperti membuat expression, melakukan query terhadap data, atau mendokumentasikan konten.
Ke depannya, agentic workflows juga berpotensi menghubungkan location services dan authoritative geographic information dengan sistem organisasi lainnya. Dengan begitu, insight sustainability dapat masuk langsung ke workflow tempat keputusan investasi dan operasional dibuat.
Namun, keputusan terkait lingkungan sering membawa dampak jangka panjang bagi masyarakat, ekosistem, dan kepercayaan publik.
Karena itu, analisis yang lebih cepat tidak berarti organisasi dapat mengabaikan kualitas data, tingkat ketidakpastian, spatial bias, atau keterbatasan model.
Tetap diperlukan manusia yang memahami konteks, memvalidasi hasil, menyetujui tindakan, dan dapat menjelaskan bagaimana sebuah keputusan dibuat.
Pendekatan terbaik bukan human versus AI, tetapi human-led AI: AI membantu memperluas kemampuan organisasi dalam mengamati dan menganalisis, sementara manusia tetap memegang konteks, keahlian, dan tanggung jawab.
Bangun pemahaman bersama agar tindakan dapat dilakukan bersama
Banyak tantangan sustainability tidak berhenti di batas satu organisasi atau satu wilayah.
Air mengalir melintasi batas administratif. Kebakaran hutan, banjir, dan panas ekstrem tidak mengenal batas wilayah. Habitat dan supply chain menghubungkan berbagai lokasi dan pemangku kepentingan. Keputusan infrastruktur yang dibuat satu organisasi juga dapat memengaruhi risiko dan resilience organisasi lainnya.
Karena itu, kolaborasi bukan hanya soal bekerja bersama. Kolaborasi juga membutuhkan informasi yang dapat dipahami dan digunakan bersama.
Tim membutuhkan data yang tepercaya, definisi yang konsisten, serta gambaran kondisi yang dapat dipahami oleh spesialis teknis, pimpinan operasional, mitra, hingga masyarakat.
Dalam hal ini, peta dapat menjadi bahasa bersama.
Peta membantu berbagai pihak melihat bagaimana kepentingan yang berbeda saling beririsan, menemukan area yang masih memiliki kesenjangan informasi, dan memusatkan diskusi pada lokasi yang membutuhkan koordinasi.
Peta tentu tidak otomatis membuat semua pihak sepakat. Namun, peta dapat memberikan dasar yang lebih kuat untuk mengambil keputusan secara transparan dan menentukan tindakan bersama.
Pesan yang lebih luas dari UC 2026 adalah bahwa tidak ada organisasi yang dapat membangun masa depan yang berkelanjutan sendirian.
Kemajuan membutuhkan kolaborasi lintas disiplin dan kemampuan mengubah berbagai informasi menjadi pemahaman bersama tentang apa yang berubah, di mana perubahan terjadi, dan di mana tindakan paling dibutuhkan.
Dari mana organisasi di Indonesia dapat memulai?
Esri UC 2026 menunjukkan bahwa kemampuan ArcGIS terus berkembang. Namun, organisasi tidak perlu mencoba semuanya sekaligus.
Mulailah dari satu keputusan terkait sustainability atau resilience yang saat ini terhambat karena informasi masih tersebar. Tanyakan:
- Hasil apa yang ingin kita tingkatkan, dan di mana dampaknya akan dirasakan?
- Data lingkungan, operasional, dan masyarakat apa yang perlu kita hubungkan?
- Apakah kita memiliki baseline yang dapat diandalkan dan cara untuk mendeteksi perubahan yang berarti?
- Skenario atau trade-off apa yang perlu dipahami oleh para pengambil keputusan?
- Di mana imagery, GeoAI, real-time data, atau digital twin dapat membuat workflow menjadi lebih baik?
- Siapa yang akan memvalidasi informasi, menyetujui tindakan, dan mengukur hasilnya?
Dari sana, organisasi dapat membangun gambaran yang lebih jelas mengenai masalah yang ingin diselesaikan, melibatkan orang-orang yang memahami lokasi dan workflow tersebut, lalu memperluas pendekatan ketika manfaatnya sudah terbukti.
Pelajaran utama mengenai sustainability dari Esri UC 2026 bukanlah bahwa satu teknologi dapat menyelesaikan semua tantangan lingkungan.
Yang lebih penting adalah bagaimana ArcGIS dan location intelligence dapat membantu organisasi membangun pemahaman bersama untuk mengambil keputusan yang lebih baik, memahami apa yang sedang terjadi, melihat apa yang berubah, memperkirakan apa yang mungkin terjadi selanjutnya, dan menentukan di mana tindakan dapat memberikan dampak terbesar.
Ingin mengetahui lebih banyak tentang berbagai pengumuman, demo, dan insight strategis dari Esri UC 2026?
Ikuti webinar rangkuman kami bersama para pakar regional untuk membahas perkembangan terbaru di ArcGIS dan apa artinya bagi organisasi Anda.